Wednesday, October 24, 2012

Get Ready, Get Set, and Start Filming in Indonesia!


When you watch a movie what would be your point of attention besides the actors? Right, the movie set. The good set, along with acting, music, story and plot speak louder than words to give you that combination of satisfying cinematographic effect that will give the moviegoers the ultimate fulfillment of one-of-a-kind movie experience.

I mean, what would the Lord of the Ring movie trilogy be without the spectacular New Zealand scenery? Wouldn’t the movie have got much fame without it? What would have been the Sound of Music (1965) without the breathtaking mountainous landscape of Salzburg and Bavaria? The movie wouldn’t have been as popular as it is now. Although ironically, popularity and fame is also what you get in Borat (2006), a satirical mockumentary comedy film that when you think of it, you cannot detach Kazakhstan from your mind.

What I have in mind is to invite these creative Hollywood minds to shoot movies in Indonesia and to use its natural beauty and cultural asset as the movie set. Air New Zealand, the New Zealand’s national airline and flag carrier, painted their fleet of Airbus A320 to help promote the Lord of the Ring movie series. But what Indonesia intends to do is the other way around; we will be using a Hollywood movie to help promote the country. Smart?

Indonesia has a lot to offer: from the metropolitan cities such as Jakarta, the beautiful supervolcano lake of Toba, the staggering Tengger desert, the world biggest Buddha’s temple of Borobudur, the marine park of Bunaken and Raja Ampat, the panoramic mountain of Bromo, up to the eternal snow at tropical climate of the Jayawijaya summit, and mind you that this is a non-exhaustive list. The more you stay in Indonesia, the more you will be surprised of what the country has to offer!

And I think the Ministry of Tourism and Creative Economy—the government’s institution responsible for tourism activity—concurs with the idea. Hollywood movies act as a multiplier effect and this can obviously be seen after the release of Eat, Pray and Love (2010), a drama film starring Julia Roberts based on a best selling memoir of the same name in which it depicts a woman’s search for everything across Italy, India and Indonesia. The movie generates a general rise in Bali tourism, an increase interest on the Ubud area—where the movie was shot--, in yoga, healers and spirituality.

A spike of Korean visitor was also noticed when Memories of Bali (2004), a Korean soap opera was released. What all this means is that, there is a strong relationship between the movies shot in Indonesia with the growing number of foreign tourists flocking to the country.
 
Tourism promotion is what Indonesia certainly needs especially after Badan Pusat Statistik, Indonesia’s national statistics center shows that the number of foreign visitors entering Indonesia on July 2012 dropped to 5,94% compared to July last year. The stats troubles the Ministry of Tourism and Creative Economy worrying that it will not reach the eight millions foreign tourists target by the end of 2012, a slight increase of 3,89% of the already reached target of 7.7 million last year.

Drawing Hollywood’s interest to shoot movies in Indonesia certainly requires a lot of sweat and it is certainly not an easy task. It needs a concerted and coordinated support from various ministries, from among others, convincing them to come to the country, to establish direct flights, and to do away with all red tape bureaucracy at home. Secondly, it also needs support from the local infrastructure, logistics and the skills of the local creative industry to support the movie shooting.

If realized, it will give Indonesia a competitive edge over the neighboring countries in Asia Pacific. It will give a room to breathe to survive in the world of economic crisis, especially when we are in trade deficit with our main trading partners. To foreign tourists, Indonesia will be their one-of-kind experience, where they can find what is good for their body, mind and soul, just like Julia Roberts did!

And soul-seeking or spiritualism might just what the foreign tourists are looking for. Marketing guru Hermawan Kartajaya, President of the World Marketing Association, said that marketing now is not just selling, in fact, Marketing 3.0, a new era of marketing as he claims it, is about approaching customers as whole human beings with minds, hearts and spirits. Not only do they look for functional and emotional fulfillment but also human spirit fulfillment in the product and service they choose.    
   
Furthermore, this is also part of Indonesia’s foreign policy, which is soft diplomacy: building the image of the country. The kind of image that Indonesia wants to be perceived. It is about how we are going to build relationship with other countries; it is about increasing international political influence, and combat negative stereotypes. It is about nation branding.

But the most important this is what the common people, like you and me, can benefit from it. Of course the inward-bound tourism will boost Indonesia’s economy and increase economic growth, creates more jobs. But the truest benefit, I am telling you,  is that  for us to realize that the country’s natural beauties as well as its cultural heritage are assets that Indonesians have to be aware of, that we are aware of the values, and how we need to further appreciate and conserve them more. Something that often left for granted.

I am done with the writing here and l invite you to start imagining.

Okay, to begin with, picture this: a sequel of the Twilight Saga in Indonesia. Well, I know that vampires do not quite fit in with Kuntilanak or Leak, the local ghosts. But hey, if you are looking for an alliance against the werewolves, you may want to keep all the options on the table. 

Sunday, March 25, 2007

50 tahun Uni Eropa

Usia Uni Eropa (UE) pada tahun 2007 memasuki separuh baya. Dan biasanya, seseorang dengan usia yang sudah setengah abad itu tentunya harus merefleksi diri, semakin bijak dan dewasa. Tapi apakah itu yang dialami oleh UE?

Sebanyak 27 kepala negara/pemerintahan berkumpul di Berlin tanggal 24 – 25 Maret 2007 untuk memberikan panduan dan visi mereka tentang apa yang akan dilakukan UE setidaknya 50 tahun ke depan.

Berawal dari kerjasama besi dan batubara antar 6 negara, Belgia, Belanda, Luxemburg (negara Benelux), Jerman Italia, Perancis, UE berkembang menjadi 27 negara dengan masuknya Rumania dan Bulgaria pada tanggal 1 Januari 2007. Tentunya, UE masih membuka diri untuk perluasan di tahun-tahun mendatang, seperti Macedonia dan negara-negara Balkan lainnya. Dan tentu saja Turki, walaupun proses aksesinya sampai sekarang belum dapat dipastikan menyusul dibekukannya delapan bab negosiasi.

Perkembangan UE bukannya tanpa masalah. Kontroversi terakhir dalam UE adalah kemandekan Konstitusi Eropa yang pada tahun 2005 diveto oleh Belanda dan Perancis. Konstitusi Eropa diperlukan karena traktat yang sekarang dipakai (Treaty of Nice) tidak lagi efektif mengingat jumlah negara UE sudah terlalu banyak sehingga memperlambat pengambilan keputusan dalam institusi-institusi UE. Treaty of Nice tidak dirancang untuk digunakan untuk 27 negara.

Namun, seandainyapun konstitusi Eropa diratifikasi oleh 27 negara UE, hal ini tidak akan menyelesaikan masalah yang selama ini menjadi pertanyaan banyak orang, setidaknya masyarakat Eropa. Masyarakat UE tidak merasakan manfaat langsung dari adanya institusi-institusi UE karena kurangnya hasil-hasil kongkrit. Masyarakat UE merasa jauh dari kebijakan-kebijakan yang diformulasikan dan diputuskan di Brussel. UE terlalu bernafsu dengan reformasi institusi sehingga tidak melihat bahwa ada yang lebih penting untuk dijadikan prioritas, seperti misalnya, peningkatan perekonomian negara anggota UE.

Terlepas dari itu, sebenarnya masyarakat UE sudah mengalami peningkatan kualitas hidup jika dibandingkan dengan komunitas masyarakat di benua lainnya. Di Eropa, orang bebas berpergian dalam negara schengen dan bebas belanja dengan mata uang tunggal, Euro. Masyarakat UE lebih sejahtera daripada masyarakat di negara lain dan yang paling penting, tidak ada perang di dalam wilayah UE sejak Perang Dunia ke II.

Paling tidak, apa yang disebut di atas merupakan sebuah prestasi yang patus dibanggakan. Dengan 27 negara anggota, tentunya akan sangat sulit membuat keputusan, namun UE membuktikan bahwa dengan kemauan yang keras dan untuk kemajuan bersama, apa yang mereka inginkan dapat tercapai.

Selamat ulang tahun Uni Eropa!


© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Labels: , ,

Monday, April 10, 2006

Generasi Setengah Hati

Kegetolan kita kepada perangkat elektronik, entah itu laptop, PDA, ponsel, pemutar lagu/video digital, membuat kita merasa seakan tidak bisa hidup tanpa mereka. Bahkan di dunia yang serba terkoneksi ini, kita seakan khawatir kalau sebentar saja tak bisa terhubungi, baik lewat telepon, pesan singkat—SMS—maupun internet. Karena itu, kita tidak pernah melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Pada waktu kita bekerja di depan komputer, chat window tetap dibiarkan terbuka, saat rapat dengan kolega, kita sibuk menekan tombol ponsel untuk SMS, bahkan untuk sholat Jumatpun, ponsel dibiarkan tetap menyala.

Hal ini yang disadari oleh Linda Stone, mantan eksekutif perusahaan Microsoft dan Apple dimana secara implisit menyampaikan bahwa masyarakat masa kini tengah mengidap sebuah epidemi yang disebutnya sebagai continous partial attention. Epidemi ini membuat perhatian kita setengah-setengah pada satu pekerjaan yang sedang kita jalani, karena setengah perhatian kita yang lain, terfokus pada kegiatan lainnya.

Saat itu ia berceramah di sebuah konferensi teknologi di San Diego, Amerika Serikat, dengan para peserta konferensi yang terdiri dari para pakar komputer, pakar dan pengusaha. Saat sedang berceramah, setengah dari para peserta sibuk menekuri laptopnya. Sementara mereka yang tidak membawa komputer jinjing, sesekali melihat perangkat BlackBerry mereka untuk mengecek email, melakukan blogging, menjelajahi internet, membayar tagihan mereka secara on-line dan lain sebagainya. Sehingga perhatian mereka tidak pernah seratus persen kepada ceramah Stone.

Intinya itu. Perhatian yang setengah-setengah, dan ini tidak melulu terkait dengan teknologi karena sebenarnya isu ini lebih mengarah kepada sebuah gejala sosial. Sebenarnya, jika kita dapat mengontrol dan dapat membelah perhatian dengan baik, tentu tidak ada salahnya. Kita biasa membaca koran sambil minum kopi bukan? Atau makan malam sambil mengobrol dengan teman atau keluarga, berkendara sembari menelepon. Tapi kalau tidak bisa, bagaimana?

Contoh mudah saja, kemarin saya berjalan-jalan di sebuah mal dimana saya melihat dua pasang muda-mudi yang sedang menunggu makanan mereka yang tengah dipesan. Menariknya, para manusia muda ini tidak ada yang mengobrol, namun asyik dengan ponselnya masing-masing. Mungkin mereka tengah ber-sms, telepon, atau main game di ponsel. Kalau sudah begitu, buat apa janjian di mal?

Karena kita dalam keadaan terkoneksi, maka perhatian kita secara kontinyu selalu teralihkan dari dunia nyata karena kita selalu menjawab email, sms, mengecek pesan suara, atau chatting. Gangguan dari “dunia lain” ini, jika bertubi-tubi, membuat kita tidak accessible, lantaran sibuk menjawab pesan maya yang datang terus menerus dan tak kunjung henti. Dilihat dari hubungan sosial antar manusia, tentu saja jika terus berlanjut, akibatnya tidak baik.

Tetapi mungkin memang generasi sudah berubah. Anak-anak generasi sekarang dikenal dengan nama generasi M. M singkatan dari Multitasking (mengerjakan banyak hal sekaligus). Dalam konteks TI, seorang anak dapat melakukan berbagai hal berbeda dalam satu waktu. Seorang anak dapat bermain game, chatting dengan temannya lewat instant messanger, menonton teve, menelpon sembari mengerjakan tugas dari sekolah. Ini merupakan kejadian yang sudah mewabah di AS.

Para orang tua khawatir apakah multitasking akan mengurangi kinerja anak-anak mereka di sekolah. Logikanya, kalau mengerjakan banyak hal sekaligus, tentu saja pekerjaan tersebut menjadi kurang bagus, karena perhatian dan daya konsentrasi tentu terpecah dan fokus mereka menjadi setengah-setengah. Namun, sejauh ini belum ada riset yang membuktikan bahwa multitasking membuat anak kehilangan fokus dalam belajar. Penelitian tentang hal ini tengah berlangsung. Mungkin juga riset akan membuktikan bahwa multitasking tidak membuat anak-anak sekarang kehilangan konsentrasinya. Siapa tahu. Kita tunggu saja.

Mungkin multitasking sudah saatnya. Pernah lihat film komedi romantik Holywood (1997) yang dibintangi Robin Williams berjudul Flubber? Ia berperan sebagai seorang profesor sains yang sangat pelupa (Prof. Philip Brainard), sehingga saat pernikahannya dengan Marcia Gay Harden (Dr. Sara Jean Reynolds), ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Sehingga kata Yes, I do terpaksa dilontarkan lewat mesin buatannya, Weebo. Mungkin suatu saat, multitasking se-ektrem ini akan menjadi kenyataan? Ataukah memang multitasking menjadi gaya hidup yang sudah menjadi keharusan. Anda yang menentukannya.


© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Monday, April 03, 2006

Globalisasi Negatif

Saya terinspirasi artikel Christian Caryl dalam majalah mingguan Newsweek edisi 13 Februari berjudul: Turning Un-Japanese, dimana Caryl menggambarkan bahwa orang Jepang sudah kehilangan budayanya, adat-istiadat dan kebiasaan tradisionalnya karena tergerus globalisasi. Masyarakat Jepang, terutama kaum mudanya menganut gaya hidup pro-Barat yang menjadikan westernisasi sebagai sebuah tren, sebuah kiblat budaya yang menjadi idola.

Mereka bahkan tidak mengenal lagi acara minum teh, sedikit yang tertarik dengan olahraga sumo—olahraga tradisional Jepang, industri sake—minuman khas Jepang—tergantikan dengan bir dan anggur, meningkatnya jumlah muda-mudi Jepang pembangkang (rebels), dan lain-lain.

Tentu saja apa yang terjadi di Jepang tidak tertutup terjadi di Indonesia. Oh, maaf, apakah saya bicara terlambat?

Manusia Indonesia suka hal-hal yang berbau modern. Mungkin sudah bawaan dari lahir. Memakai kemeja Pierre Cardin, bersepatu Bally, menenteng tas Mont Blanc di tangan kanan sambil mengempit komputer genggam Toshiba, berjam tangan Rolex dan mengemudikan Nissan Terrano. Kesan mewah dan metroseksual pasti terpancar. Siapa yang tidak akan tergila-gila dibuatnya.

Namun tidak satupun dari benda-benda tersebut dapat kita buat sendiri di tanah air. Kita bangsa pengimpor. Semua benda tersebut adalah hasil dari globalisasi dimana kita, manusia Indonesia menjadi konsumen yang konsumtif. Globalisasi itu ngeri, kalau kita tidak cerdas menanggapinya. Namun apa hendak dikata, globalisasi dan westernisasi sering dimenangkan dengan alasan modernitas.

Celakanya, globalisasi tidak menyerang dari sisi konsumtifnya saja. Lupakan hegemoni Barat dan kapitalisme. Ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yang lebih kasat mata, yaitu erosi budaya. Apa yang terjadi di Jepang, terjadi pula di Indonesia, berapa orang yang ikut pencak silat daripada yang ingin pintar dansa Tango atau tari Balet. Berapa orang yang ikut kursus gamelan dibandingkan les bahasa inggris. Budaya Indonesia meluntur, nilai-nilai keluarga dan kekeluargaan hilang, semangat gotong royong sirna. Nasionalisme tumpul.

Semua serba materialistis, individualistis dan impersonal.

Tidak ada lagi yang membuat kita merasa Indonesia.

Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini bak formula matematika yang selalu berbanding terbalik. Tidak akan berlaku lagi ada istilah Jawa, mangan ora mangan ngumpul (makan tidak makan kumpul). Saya khawatir bahwa rasa keindonesiaan akan hilang sirna, cepat atau perlahan. Kita melihat bahwa suka atau tidak suka, bahwasanya globalisasi, jika tidak ditanggapi dengan cerdik, lebih banyak merugikan kita.

Kita tahu bahwa globalisasi tidak dapat dihindari. Menurut Ali H Al-Hakim, salah seorang intelektual muslim, menyatakan bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang berurat-akar, yang bahkan para penentangnya telah menerima bahwa “proses tersebut tidak bisa dihindari” karena globalisasi meliputi sebuah proses yang sangat panjang, membentang selama berabad-abad, meliputi dimensi-dimensi budaya, politik, sosial-komunikatif, dan ekonomi”.

Kita harus diingatkan kembali bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Karena kalau tidak, kita lupa. Kita pernah jaya, sebuah kejayaan masa lalu yang mungkin tidak dapat kita raih kembali karena bangsa ini minder dengan gaya hidup barat. Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini adalah formula matematika yang senantiasa berbanding terbalik.

Jepang masih beruntung. Walaupun akulturasi dengan Barat membuat budaya Jepang meluntur, budaya Jepang juga mencuat ke luar. Restoran Sushi (Sushibar) dapat kita temukan di mana saja, Japanese Pop (J-Pop) merambah ke Cina, Korea, Asia Tenggara bahkan Amerika. Komik dan film kartun Jepang (manga dan animé) memiliki penggemar di seluruh dunia.

Lantas kita punya apa?

Bangsa ini mengekspor penduduknya untuk dipekerjakan di luar negeri. Walau dianggap sebagai pahlawan devisa, kenyataan berbicara bahwa mereka masih dipicingkan sebelah mata baik oleh negara penerima maupun bangsa sendiri. Di Belanda, banyak berdiri restoran Indonesia, namun peminatnya hanya kaum sepuh yang dulunya lama di negara ini sebagai salah satu eks koloni. Sekalinya generasi tua ini habis dimakan zaman, maka hubungan budaya dengan Belanda akan putus.

Sepertinya saya harus bertanya lagi, apa yang membuat kita merasa Indonesia?

Sayangnya kita berada dalam posisi yang tidak diuntungkan oleh globalisasi. Bukan karena salah globalisasinya, melainkan karena kita lalai. Globalisasinya semestinya bisa menjadi batu loncatan. Kita tidak perlu mengalami perang saudara di Amerika, perang dunia di Eropa, karena sejarah terlalu mahal untuk diulang. Indonesia memiliki banyak potensi yang seandainya digunakan dengan baik, akan menjadi negara besar di kawasan. Indonesia harus belajar dari sejarah, karena kalau tidak, Indonesia berdiri di atas landasan yang goyah, yang dapat tiba-tiba jatuh. Atau, Indonesia yang kita kenal saat ini akan berbeda dengan Indonesia 10 atau 20 tahun mendatang.

---------------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Monday, March 27, 2006

Toward a New Asia?

Contributed by Agusti Anwar


On 14 December 2005, in Kuala Lumpur, East Asian leaders were having a summit meeting for the first time. This inaugural East Asia summit is certainly high in the regional agenda, being the latest development made by the region.

Attending the meeting were not only the usual ASEAN+3 countries which involve the ten Southeast Asian countries along with China, Japan and the Republic of Korea. At this very summit there were also India, Australia and New Zealand.

Many analysts are now challenging their knowledge and wisdom to offer best explanation on this new structure (eg, Tim Shorrock, Why the East Asian Summit matters). Like usual, the pessimists concentrate on the problems; while the optimists tend to overdo. There is no telling which would be the right sensing, since the future is still a foretelling---no certainty.

Surely there are many can be told about this new development. Three of them may be worth underlining. First, this new structure is a way forward for the region in the sense that 16 countries are sitting together and committed to closer cooperation within a new framework. The trend toward more cooperation is strong.

Second, as a corollary, there seems a shared feeling that a progress toward an East Asia community is not so abstract but a possible future---distant, if not near. With all members acceded to the Treaty of Amity and Cooperation (TAC), the East Asia is committed to addressing disputes in peaceful manners. Everyone is aware that the peace approach is the basic for a community.

Third, this summit can also be considered as a take to redefine the 'East Asianness' or perhaps even 'Asianness'. With India involved, almost all 'big' player in the region being included. Concerns of other Asian countries for being outside the circle, for example Pakistan, Russia, or even the US, can always be addressed in the future, if those in concerned so request.

One thing interesting to note that if this structure is really a redefinition of East Asia, there may be a question whether all members of this grouping are eligible for the membership of, say, Asia-Europe Meeting (ASEM). In respect of ASEM, this process uses in its name the word 'Asia' as the telling regional definition, even though the countries inside are still those of ASEAN+3. India has from quite sometime already requested to become a member, even Australia. With the new East Asia, will this also instruct the inclusion of, at least, India and Australia, in the fold of ASEM?

Of course ASEM has its own mechanism for enlargement, which is very much inclusive for the possibility of membership of all other Asian countries. The membership enlargement within ASEM, based on its Asia-Europe Cooperation Framework (AECF) 2000, mainly only requires individual country application, support from the region where the candidate positioned, Asia or Europe, to be followed by the ASEM leaders' consensus in favour of the application.

If that so, ASEM may also need to enlarge toward more Asian membership. After all, in terms of number, there is a striking imbalance within ASEM, with current partners 25 from Europe and 13 from Asia. Soon, ASEM is also looking at the possible more European members to include Rumania and Bulgaria upon their formal entry into the European Union by January 2007.

The East Asia grouping as just being inaugurated may have a great task ahead. This includes the construct of its future substantive course. It is a truism that what is had since now is still the structure. Taking the lead from the format of ASEAN relations with all dialogue partners, most regional and global issues affecting members can be put in the agenda of the East Asia grouping. This means a strategic, broad-ranging list, from terrorism to disasters or contiguous diseases. All can certainly be tacked in an East Asian-wide effort which will in turn serve as a significant contribution at the global level.

The case is that what is seemed to be the ASEAN way, the existence of a construct is not a finished business, but a process forward. The ASEAN way is always about evolving, and this may also be the way to perceive the just-born East Asia grouping. This prescription is also a telling that ASEAN will also endeavor to the fullest its confirmed role as the driving force of this new framework. After all, the three elements making non ASEAN countries eligible for the East Asia membership are (1) the status of full dialogue partners of ASEAN; (2) the accession to the Treaty of Amity and Cooperation (TAC); and (3) have substantive relations with ASEAN. Australia was a reluctant party to the TAC, but due to its higher need to engage the region, accession was opted. This made the exclusion of 'East Asia' to Australia is reasonless.

The question is whether ASEAN can successfully employ its driving role---not in the definition as a driver or chauffer while the 'real players' are sitting in the back seat, instructing where to go. With China and India in the back seat, a combined sized of 2.3 billion, and still plus other important regional players, the way the actual play for ASEAN as the driver can be overwhelming. It is true that ASEAN is trying so much to become the soft pole en-massing regional powers to come together. But the 'event organizer' is not equal the 'host'. This is worth pondering.

Congratulation for the establishment of the new East Asia framework

Closer to the Future: Optical Broadband

Closer to the Future: Optical Broadband

Merujuk tulisan B.J. Lee dalam Newsweek, Maret 27 2006, dengan judul Coming Soon: The Superfast Internet, saya tertarik salah satu pernyataannya yang mengatakan bahwa teknologi pita lebar optik (optical broadband) yang sudah mulai dipasarkan di Korea Selatan dan Jepang, memiliki kecepatan 100 megabits/detik atau 20 kali lebih cepat daripada pita lebar biasa. Itu berarti 12,5 megabytes/detik. (1 byte = 8 bit). Kalau itu belum membuat Anda paham, pita lebar optik membuat sebuah film berdurasi 2 jam dapat didownload hanya dalam waktu 6 menit!

Tentu saja berkat teknologi optik, berjelajah di internet menjadi super cepat dan saat harus mendownload gambar, video clip atau file berukuran besar menjadi tak terasa. Tetapi optik pita lebar juga membuat masalah baru, salah satunya masalah copyright, karena mendownload lagu atau film menjadi tanpa kendala. Hal ini tentunya akan membuat industri film dan musik (ingat kasus Napster atau Kazaa) kembali resah karena film dan lagu akan “berpindah tangan” secepat copy-and-paste di Microsoft Word. Nah, babak baru bajak-membajak dan film akan memasuki era baru di Internet.

Terlepas dari itu, ada satu hal kesimpulan menarik: di masa depan, kita tidak perlu mempunyai gadget TI yang memiliki harddisk besar untuk memuat lagu dan musik. Saya terbayang orang akan memiliki sebuah pemutar digital yang hanya berkapasitas 4GB (cukup untuk satu film berdurasi 2 jam), namun memiliki koneksi pita lebar optik. Pemutar digital tersebut tersambung dengan service/content provider yang mempunyai daftar musik dan lagu dari seluruh dunia. Dengan membayar iuran bulanan, pengguna dapat memilih satu judul film, tunggu 6 menit, dan film siap dinikmati! Setelah film selesai ditonton, maka film tersebut akan otomatis dihilangkan dari harddisk dan siap untuk diisi dengan film berikutnya. Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan musik. Tidak mustahil bukan?

---------------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Thursday, March 09, 2006

Konvergensi TI: Sebuah Proyeksi

Bayangkan ini:

“Saya sedang menaiki busway jurusan Blok M - Kota ke arah kantor di bilangan Sudirman. Sembari duduk, saya asyik mendendangkan sebuah lagu yang baru saja didownload secara streaming dari internet lewat ponsel. Keasyikan saya tiba-tiba terganggu karena ponsel saya yang terkoneksi lewat VoIP berdering. Ketika dijawab, terlihat wajah Toni, teman kantor di layar ponsel saya yang kebingungan di kantor karena server mendadak rusak dan bisa-bisa menghambat pekerjaan dan merugikan kantor secara finansial. Saya tenangkan Toni dahulu. Sebagai seorang system analyst, tentu saja saya tahu apa yang dihadapi. Masih melalui ponsel saya yang dilengkapi internet dan VPN, server saya matikan dan saya perintahkan untuk menjalankan deteksi kerusakan. Dalam hitungan detik, server mengirimkan laporan kembali ke saya dan mendeteksi kegagalan harddisk. Kemudian saya mencari toko komputer terdekat masih dengan ponsel saya. Ketika busway berada di bilangan Senayan, ponsel mendeteksi toko komputer di kawasan Ratu Plaza. Bukan hanya itu saja, namun ponsel juga memperlihatkan daftar merek dan harga perangkat keras yang saya cari. Saya klik harddisk yang saya inginkan dengan satu sentuhan lembut di layar ponsel dan membelinya lewat mobile banking. Saya minta supaya barang diantar ke kantor dan bertemu dengan Toni. Tidak perlu saya menjelaskan dan mengeja alamat kantor susah payah karena nomor ponsel sudah teregistrasi secara nasional dan semua informasi mengenai profile saya sangat lengkap. Ketika sampai di kantor, masalah sudah teratasi dengan baik. Bahkan atasan saya tidak menyadari masalah teknis tersebut karena saat server saya matikan, backup server langsung menggantikan secara otomatis..”

Mungkin impian saya di atas sangat berlebihan. Tetapi mungkin juga tidak. Bahkan, beberapa elemen dari impian saya sudah terwujud serta bagian lain berada di ambang kenyataan. Impian saya tidak mustahil terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama berkat konvergensi teknologi informatika (TI).

Walaupun konvergensi TI impian saya sangat ekstrim, selama ini konvergensi dalam taraf tertentu, sudah dinikmati konsumen dengan munculnya produk-produk TI berkelas consumer goods. Walau trend ini bukan sama sekali baru, tahun 2006 tetap bertahan pada konvergensi yang menjadi prinsip mendasar dan fokus bisnis TI. Kelas ini juga paling banyak diminati, baik oleh konsumen maupun produsen elektronik. Konsumenpun sangat variatif dengan tren pasar yang selalu berubah-rubah. Jangan heran bahwa peluang bisnis di sektor ini sangat menggiurkan.

Konsumen dewasa ini dilazimkan dengan sebuah perangkat TI yang serba bisa. Fitur seperti kamera megapiksel, bluetooth, memori eksternal, layar ekstra lebar, USB port, speakerphone, Wi-Fi, MP3, Video Player, GPS, dan lain-lain sebagainya dipadatkan dalam satu produk. Konvergensi meningkatkan kompatibilas dan interoperabilitas sehingga satu produk dengan produk lainnya bisa “saling komunikasi”. Konvergensi juga merupakan syarat utama untuk menjaga eksistensi suatu produk di pasaran. Untuk si penjual, kovergensi TI menaikkan daya saing dengan produk sejenis yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual. Di pihak lain konsumen juga menuntut sebuah perangkat TI yang kaya fitur dan berani membayar lebih untuk hal itu.

Saya melihat bahwa konvergensi akan menjadi tren dalam waktu yang jauh lebih lama. Disaat satu teknologi sudah mencapai titik jenuh dan belum ada terobosan baru, maka teknologi tersebut akan dipadukan dengan teknologi lainnya. Saya tidak berbicara hanya untuk ponsel. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa di sektor ponsel inilah konvergensi nampak sangat jelas dan berjalan jauh lebih cepat. Butuh waktu lama sehingga komputer pribadi dan notebook untuk dilengkapi dengan internet. Sedangkan untuk ponsel dan komputer saku atau Palm Digital Assistant (PDA), jauh lebih cepat.

Saya memberanikan diri untuk memprediksi konvergensi TI sedikit ke depan. Saya lihat bahwa ada tiga ciri khas konvergensi yaitu faktor telepon, komputer dan internet. Karena itu, ketiga faktor ini merupakan hal yang mesti ada (a must have) dalam sebuah perangkat IT yang terkonvergensi. Walau terkesan saling tumpang tindih, namun masing-masing tidak dapat menghilangkan satu atau lainnya. Malahan ketiganya saling melengkapi.

Bukan hanya sekedar kata-kata

Sejak Alexander Graham Bell menciptakan telepon pada tahun 1876, teknologi ini tidak berubah drastis. Telepon sampai sekarang adalah alat untuk menelepon yang mentransmisikan suara manusia. Saat jaringan telepon digunakan untuk mengirim faksimil yang pertama kalinya pada tahun 1925, dan untuk internet pada awal 1980-an, teknologi telepon pada prinsipnya tidak berubah. Penggunaan mesin faksimil dan internet pada telepon hanya mengkonversi digital ke analog dan sebaliknya pada “si penelpon” dan “si penerima” telepon, namun tidak merubah jaringan telepon itu sendiri. Teknologi transistor pada tahun 1947 memang telah menggantikan bahan perangkat keras sirkuit telepon yang tadinya berat menjadi lebih ringan dan kompak. Namun, desain dasar dan cara kerja telepon pada esensinya tetap sama.

Pada sisi telepon, konvergensi pada telepon mulai nampak pada perpaduan antara telepon dengan PDA. Berkat penyatuan keduanya, maka teks dan multimedia dapat ditransmisikan melewati jaringan telepon. Hal ini sudah lama dapat dilakukan dengan komputer yang terkoneksi internet. Bedanya, PDA berponsel atau Ponsel ber-PDA lebih unggul karena sifatnya yang mobile. Karena itu, teknologi seperti ini lebih diminati. Untuk diketahui saja bahwa bisnis tukar menukar teks, foto dan video dengan SMS maupun MMS akan bernilai 50 milyar Euro dengan 2,3 trilyun pesan terkirim pada tahun 2010.

Telepon seperti internet, membuat manusia terhubung antara satu dengan lainnya. Namun ketimbang hanya saling nyerocos hanya dengan suara, maka internet membuat telepon lebih kaya fitur, dan mengirimkan bukan hanya sekedar kata-kata.

Namun demikian, telepon tidak akan tergantikan oleh internet. Walaupun teknologi seperti VoIP sudah banyak dan kian matang, VoIP tidak akan dominan. Semata-mata karena perusahaan telepon di banyak negara merupakan monopoli pemerintah dan diregulasi. Sementara perkembangan internet di Indonesia, layaknya di Amerika Serikat, lebih bersandar kepada permintaan pasar atau hukum ekonomi yaitu besar kecilnya permintaan dan penawaran.

Gaya hidup manusia yang lebih mobile di masa datang akan menuntut produsen teknologi informasi untuk membuat lebih banyak lagi PDA yang ber-keyboard. Karena notebook dewasa ini walaupun berdaya komputasi jauh lebih besar daripada PDA, dimensi fisik notebook masih terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam saku baju atau celana. Sementara, banyak orang sudah melakukan aktivitas ketik mengetik di PDA ketimbang hanya untuk telepon dan bertukar teks serta multimedia. Karena itu selama komputer saat ini belum dapat dibuat dengan ukuran PDA, maka yang lebih mungkin terjadi adalah membuat PDA ber-keyboard untuk mengakomodasi tuntutan zaman.

Perkembangan 3G yang kian gencar akan menghadirkan internet pita lebar untuk ponsel sehingga aplikasi-aplikasi yang tadinya eksklusif hanya untuk komputer dan notebook dapat ditampilkan lewat ponsel. Salah satu aplikasi 3G misalnya, menghadirkan wajah si pembicara dalam layar ponsel penerima.

Masalahnya, saya tidak bisa membayangkan bahwa di masa depan, saya harus membiasakan diri menjawab ponsel saya tidak dengan meletakkan ponsel saya di telinga kemudian berhalo-halo ria, tetapi melihat ponsel saya dan menatap wajah si penelpon di layar ponsel, layaknya seperti berbicara dengan seseorang melalui teve. Saya pikir, setelah 130 tahun tradisi manusia menjawab telepon dengan cara “tradisional”, maka saya rasa diperlukan waktu yang lama untuk merubah pola menjawab ponsel yang demikian.

Does Power Matter?

Sementara pada komputer, yang terjadi saat ini adalah adu kecepatan dan kekuatan. Dua kubu yang bertarung sengit, Intel dan AMD berusaha untuk terus saling mengalahkan dengan menciptakan prosesor-prosesor baru yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Perangkat keras pendukung seperti harddisk, memory dan lain sebagainya pun tidak mau ketinggalan, masing-masing berlomba menciptakan perangkat keras dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada sebelumnya.

Tetapi, pada suatu saat teknologi komputer saat ini akan berada dalam batas tertentu sehingga batasan perangkat keras didobrak oleh penemuan-penemuan mutakhir yang membuat kita berpikir ulang bagaimana mendefinisi kecepatan. Komputer dengan kecepatan cahaya? Komputer bertenaga hidrogen atau mikro nuklir? Jangan anggap ini lelucon karena riset ke arah itu sudah ada.

Tetapi mungkin juga tidak. Karena masa depan tidaklah melulu soal adu kecepatan dan kekuatan. Suatu saat para pakat teknologi akan berpikir bagaimana menciptakan sebuah komputer yang mempunyai daya komputasi berdaya rendah namun amat memadai untuk melakukan komputasi. Bedanya, komputer ini akan sangat bergantung pada internet sehingga komputasi baik untuk melakukan aktivitas wordprocessing, misalnya akan dilakukan di server, bukan di client. Komputer masa depan mungkin tak ubahnya seperti teve masa kini, hanya menangkap signal dari gelombang yang dipancarkan. Bedanya, komputer masa depan akan menangkap gelombang internet dan interaksi dengan pengguna dilakukan dua arah (full duplex).

Komputer masa depan akan berfungsi layaknya pemutar lagu dan video. Bedanya, file lagu dan video tidak ada di dalam komputer, melainkan di server. Dengan begitu, tidak diperlukan harddisk yang besar untuk menyimpan file yang begitu banyak dan tidak pula diperlukan prosesor berdaya komputasi besar mengingat kebanyakan komputasi akan dilakukan di server. Hal ini juga akan membuat kita tak perlu belanja aplikasi word processor misalnya, karena sudah dilengkapi di server. Aplikasi semacam ini sudah ditawarkan di beberapa situs, namun dinilai belum terlalu mengemuka karena isu keamanan dan terbatasnya bandwidth.

Internet ada di mana-mana

Pernah dengar judul sinetron di salah satu teve swasta berjudul “Tuhan ada di mana-mana?” Jika pernah, itulah yang sedang dikembangkan oleh para pakar teknologi dewasa ini: Internet ada dimana-mana dan nirkabel tentunya.

Internet sudah mulai merambah dunia sejak tahun 1990an dan penggunaannya hanya terbatas pada imajinasi manusia. Dari hanya untuk bertukar informasi iptek, email, multimedia, kampanye, mobile banking, blogging, hingga mengawasi bayi dari kantorpun, semuanya dapat dilakukan lewat internet.

Beberapa kota di dunia seperti Taiwan, Philadelphia dan San Fransisco tengah mengadopsi sebuah sistem nirkabel raksasa. Sehingga kelak, seseorang bisa mengakses internet di taman kota secara nirkabel. Sistem ini lebih nyaman ketimbang bergonta-ganti hotspots dengan jaringan yang berbeda.

Siapa yang tahu? Saya melihat bahwa seperti halnya revolusi industri yang merubah dunia tahun 1760-1830 yang lalu, maka revolusi teknologi informasi dengan motto Internet Everywhere dapat merubah cara manusia melihat dunia, merubah cara bekerja dan menikmati hidup.

Saya membayangkan suatu saat saya duduk di taman kota, Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua Jakarta yang sudah asri dengan pepohonan rindang (tentunya kalau taman tersebut sudah direvitalisasi oleh Pemda DKI) bersama seorang nenek, istri saya kelak tentunya :-) dan membuka ponsel saya dan melihat tayangan televisi sekaligus melihat foto-foto cucu kami yang sekolah di Australia sambil menikmati secangkir kopi hangat, tape serta pisang goreng yang kesemuanya saya bayar dengan mobile banking.

Mungkin teknologi berubah, namun kebiasaan saya memakan tape dan pisang goreng, mungkin tidak. Beberapa kebiasaan susah dihilangkan.

--------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Tuesday, February 07, 2006

Why even bother?

People say that practice makes perfect. But nobody is perfect. So why bother practising?