Monday, March 27, 2006

Toward a New Asia?

Contributed by Agusti Anwar


On 14 December 2005, in Kuala Lumpur, East Asian leaders were having a summit meeting for the first time. This inaugural East Asia summit is certainly high in the regional agenda, being the latest development made by the region.

Attending the meeting were not only the usual ASEAN+3 countries which involve the ten Southeast Asian countries along with China, Japan and the Republic of Korea. At this very summit there were also India, Australia and New Zealand.

Many analysts are now challenging their knowledge and wisdom to offer best explanation on this new structure (eg, Tim Shorrock, Why the East Asian Summit matters). Like usual, the pessimists concentrate on the problems; while the optimists tend to overdo. There is no telling which would be the right sensing, since the future is still a foretelling---no certainty.

Surely there are many can be told about this new development. Three of them may be worth underlining. First, this new structure is a way forward for the region in the sense that 16 countries are sitting together and committed to closer cooperation within a new framework. The trend toward more cooperation is strong.

Second, as a corollary, there seems a shared feeling that a progress toward an East Asia community is not so abstract but a possible future---distant, if not near. With all members acceded to the Treaty of Amity and Cooperation (TAC), the East Asia is committed to addressing disputes in peaceful manners. Everyone is aware that the peace approach is the basic for a community.

Third, this summit can also be considered as a take to redefine the 'East Asianness' or perhaps even 'Asianness'. With India involved, almost all 'big' player in the region being included. Concerns of other Asian countries for being outside the circle, for example Pakistan, Russia, or even the US, can always be addressed in the future, if those in concerned so request.

One thing interesting to note that if this structure is really a redefinition of East Asia, there may be a question whether all members of this grouping are eligible for the membership of, say, Asia-Europe Meeting (ASEM). In respect of ASEM, this process uses in its name the word 'Asia' as the telling regional definition, even though the countries inside are still those of ASEAN+3. India has from quite sometime already requested to become a member, even Australia. With the new East Asia, will this also instruct the inclusion of, at least, India and Australia, in the fold of ASEM?

Of course ASEM has its own mechanism for enlargement, which is very much inclusive for the possibility of membership of all other Asian countries. The membership enlargement within ASEM, based on its Asia-Europe Cooperation Framework (AECF) 2000, mainly only requires individual country application, support from the region where the candidate positioned, Asia or Europe, to be followed by the ASEM leaders' consensus in favour of the application.

If that so, ASEM may also need to enlarge toward more Asian membership. After all, in terms of number, there is a striking imbalance within ASEM, with current partners 25 from Europe and 13 from Asia. Soon, ASEM is also looking at the possible more European members to include Rumania and Bulgaria upon their formal entry into the European Union by January 2007.

The East Asia grouping as just being inaugurated may have a great task ahead. This includes the construct of its future substantive course. It is a truism that what is had since now is still the structure. Taking the lead from the format of ASEAN relations with all dialogue partners, most regional and global issues affecting members can be put in the agenda of the East Asia grouping. This means a strategic, broad-ranging list, from terrorism to disasters or contiguous diseases. All can certainly be tacked in an East Asian-wide effort which will in turn serve as a significant contribution at the global level.

The case is that what is seemed to be the ASEAN way, the existence of a construct is not a finished business, but a process forward. The ASEAN way is always about evolving, and this may also be the way to perceive the just-born East Asia grouping. This prescription is also a telling that ASEAN will also endeavor to the fullest its confirmed role as the driving force of this new framework. After all, the three elements making non ASEAN countries eligible for the East Asia membership are (1) the status of full dialogue partners of ASEAN; (2) the accession to the Treaty of Amity and Cooperation (TAC); and (3) have substantive relations with ASEAN. Australia was a reluctant party to the TAC, but due to its higher need to engage the region, accession was opted. This made the exclusion of 'East Asia' to Australia is reasonless.

The question is whether ASEAN can successfully employ its driving role---not in the definition as a driver or chauffer while the 'real players' are sitting in the back seat, instructing where to go. With China and India in the back seat, a combined sized of 2.3 billion, and still plus other important regional players, the way the actual play for ASEAN as the driver can be overwhelming. It is true that ASEAN is trying so much to become the soft pole en-massing regional powers to come together. But the 'event organizer' is not equal the 'host'. This is worth pondering.

Congratulation for the establishment of the new East Asia framework

Closer to the Future: Optical Broadband

Closer to the Future: Optical Broadband

Merujuk tulisan B.J. Lee dalam Newsweek, Maret 27 2006, dengan judul Coming Soon: The Superfast Internet, saya tertarik salah satu pernyataannya yang mengatakan bahwa teknologi pita lebar optik (optical broadband) yang sudah mulai dipasarkan di Korea Selatan dan Jepang, memiliki kecepatan 100 megabits/detik atau 20 kali lebih cepat daripada pita lebar biasa. Itu berarti 12,5 megabytes/detik. (1 byte = 8 bit). Kalau itu belum membuat Anda paham, pita lebar optik membuat sebuah film berdurasi 2 jam dapat didownload hanya dalam waktu 6 menit!

Tentu saja berkat teknologi optik, berjelajah di internet menjadi super cepat dan saat harus mendownload gambar, video clip atau file berukuran besar menjadi tak terasa. Tetapi optik pita lebar juga membuat masalah baru, salah satunya masalah copyright, karena mendownload lagu atau film menjadi tanpa kendala. Hal ini tentunya akan membuat industri film dan musik (ingat kasus Napster atau Kazaa) kembali resah karena film dan lagu akan “berpindah tangan” secepat copy-and-paste di Microsoft Word. Nah, babak baru bajak-membajak dan film akan memasuki era baru di Internet.

Terlepas dari itu, ada satu hal kesimpulan menarik: di masa depan, kita tidak perlu mempunyai gadget TI yang memiliki harddisk besar untuk memuat lagu dan musik. Saya terbayang orang akan memiliki sebuah pemutar digital yang hanya berkapasitas 4GB (cukup untuk satu film berdurasi 2 jam), namun memiliki koneksi pita lebar optik. Pemutar digital tersebut tersambung dengan service/content provider yang mempunyai daftar musik dan lagu dari seluruh dunia. Dengan membayar iuran bulanan, pengguna dapat memilih satu judul film, tunggu 6 menit, dan film siap dinikmati! Setelah film selesai ditonton, maka film tersebut akan otomatis dihilangkan dari harddisk dan siap untuk diisi dengan film berikutnya. Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan musik. Tidak mustahil bukan?

---------------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Thursday, March 09, 2006

Konvergensi TI: Sebuah Proyeksi

Bayangkan ini:

“Saya sedang menaiki busway jurusan Blok M - Kota ke arah kantor di bilangan Sudirman. Sembari duduk, saya asyik mendendangkan sebuah lagu yang baru saja didownload secara streaming dari internet lewat ponsel. Keasyikan saya tiba-tiba terganggu karena ponsel saya yang terkoneksi lewat VoIP berdering. Ketika dijawab, terlihat wajah Toni, teman kantor di layar ponsel saya yang kebingungan di kantor karena server mendadak rusak dan bisa-bisa menghambat pekerjaan dan merugikan kantor secara finansial. Saya tenangkan Toni dahulu. Sebagai seorang system analyst, tentu saja saya tahu apa yang dihadapi. Masih melalui ponsel saya yang dilengkapi internet dan VPN, server saya matikan dan saya perintahkan untuk menjalankan deteksi kerusakan. Dalam hitungan detik, server mengirimkan laporan kembali ke saya dan mendeteksi kegagalan harddisk. Kemudian saya mencari toko komputer terdekat masih dengan ponsel saya. Ketika busway berada di bilangan Senayan, ponsel mendeteksi toko komputer di kawasan Ratu Plaza. Bukan hanya itu saja, namun ponsel juga memperlihatkan daftar merek dan harga perangkat keras yang saya cari. Saya klik harddisk yang saya inginkan dengan satu sentuhan lembut di layar ponsel dan membelinya lewat mobile banking. Saya minta supaya barang diantar ke kantor dan bertemu dengan Toni. Tidak perlu saya menjelaskan dan mengeja alamat kantor susah payah karena nomor ponsel sudah teregistrasi secara nasional dan semua informasi mengenai profile saya sangat lengkap. Ketika sampai di kantor, masalah sudah teratasi dengan baik. Bahkan atasan saya tidak menyadari masalah teknis tersebut karena saat server saya matikan, backup server langsung menggantikan secara otomatis..”

Mungkin impian saya di atas sangat berlebihan. Tetapi mungkin juga tidak. Bahkan, beberapa elemen dari impian saya sudah terwujud serta bagian lain berada di ambang kenyataan. Impian saya tidak mustahil terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama berkat konvergensi teknologi informatika (TI).

Walaupun konvergensi TI impian saya sangat ekstrim, selama ini konvergensi dalam taraf tertentu, sudah dinikmati konsumen dengan munculnya produk-produk TI berkelas consumer goods. Walau trend ini bukan sama sekali baru, tahun 2006 tetap bertahan pada konvergensi yang menjadi prinsip mendasar dan fokus bisnis TI. Kelas ini juga paling banyak diminati, baik oleh konsumen maupun produsen elektronik. Konsumenpun sangat variatif dengan tren pasar yang selalu berubah-rubah. Jangan heran bahwa peluang bisnis di sektor ini sangat menggiurkan.

Konsumen dewasa ini dilazimkan dengan sebuah perangkat TI yang serba bisa. Fitur seperti kamera megapiksel, bluetooth, memori eksternal, layar ekstra lebar, USB port, speakerphone, Wi-Fi, MP3, Video Player, GPS, dan lain-lain sebagainya dipadatkan dalam satu produk. Konvergensi meningkatkan kompatibilas dan interoperabilitas sehingga satu produk dengan produk lainnya bisa “saling komunikasi”. Konvergensi juga merupakan syarat utama untuk menjaga eksistensi suatu produk di pasaran. Untuk si penjual, kovergensi TI menaikkan daya saing dengan produk sejenis yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual. Di pihak lain konsumen juga menuntut sebuah perangkat TI yang kaya fitur dan berani membayar lebih untuk hal itu.

Saya melihat bahwa konvergensi akan menjadi tren dalam waktu yang jauh lebih lama. Disaat satu teknologi sudah mencapai titik jenuh dan belum ada terobosan baru, maka teknologi tersebut akan dipadukan dengan teknologi lainnya. Saya tidak berbicara hanya untuk ponsel. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa di sektor ponsel inilah konvergensi nampak sangat jelas dan berjalan jauh lebih cepat. Butuh waktu lama sehingga komputer pribadi dan notebook untuk dilengkapi dengan internet. Sedangkan untuk ponsel dan komputer saku atau Palm Digital Assistant (PDA), jauh lebih cepat.

Saya memberanikan diri untuk memprediksi konvergensi TI sedikit ke depan. Saya lihat bahwa ada tiga ciri khas konvergensi yaitu faktor telepon, komputer dan internet. Karena itu, ketiga faktor ini merupakan hal yang mesti ada (a must have) dalam sebuah perangkat IT yang terkonvergensi. Walau terkesan saling tumpang tindih, namun masing-masing tidak dapat menghilangkan satu atau lainnya. Malahan ketiganya saling melengkapi.

Bukan hanya sekedar kata-kata

Sejak Alexander Graham Bell menciptakan telepon pada tahun 1876, teknologi ini tidak berubah drastis. Telepon sampai sekarang adalah alat untuk menelepon yang mentransmisikan suara manusia. Saat jaringan telepon digunakan untuk mengirim faksimil yang pertama kalinya pada tahun 1925, dan untuk internet pada awal 1980-an, teknologi telepon pada prinsipnya tidak berubah. Penggunaan mesin faksimil dan internet pada telepon hanya mengkonversi digital ke analog dan sebaliknya pada “si penelpon” dan “si penerima” telepon, namun tidak merubah jaringan telepon itu sendiri. Teknologi transistor pada tahun 1947 memang telah menggantikan bahan perangkat keras sirkuit telepon yang tadinya berat menjadi lebih ringan dan kompak. Namun, desain dasar dan cara kerja telepon pada esensinya tetap sama.

Pada sisi telepon, konvergensi pada telepon mulai nampak pada perpaduan antara telepon dengan PDA. Berkat penyatuan keduanya, maka teks dan multimedia dapat ditransmisikan melewati jaringan telepon. Hal ini sudah lama dapat dilakukan dengan komputer yang terkoneksi internet. Bedanya, PDA berponsel atau Ponsel ber-PDA lebih unggul karena sifatnya yang mobile. Karena itu, teknologi seperti ini lebih diminati. Untuk diketahui saja bahwa bisnis tukar menukar teks, foto dan video dengan SMS maupun MMS akan bernilai 50 milyar Euro dengan 2,3 trilyun pesan terkirim pada tahun 2010.

Telepon seperti internet, membuat manusia terhubung antara satu dengan lainnya. Namun ketimbang hanya saling nyerocos hanya dengan suara, maka internet membuat telepon lebih kaya fitur, dan mengirimkan bukan hanya sekedar kata-kata.

Namun demikian, telepon tidak akan tergantikan oleh internet. Walaupun teknologi seperti VoIP sudah banyak dan kian matang, VoIP tidak akan dominan. Semata-mata karena perusahaan telepon di banyak negara merupakan monopoli pemerintah dan diregulasi. Sementara perkembangan internet di Indonesia, layaknya di Amerika Serikat, lebih bersandar kepada permintaan pasar atau hukum ekonomi yaitu besar kecilnya permintaan dan penawaran.

Gaya hidup manusia yang lebih mobile di masa datang akan menuntut produsen teknologi informasi untuk membuat lebih banyak lagi PDA yang ber-keyboard. Karena notebook dewasa ini walaupun berdaya komputasi jauh lebih besar daripada PDA, dimensi fisik notebook masih terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam saku baju atau celana. Sementara, banyak orang sudah melakukan aktivitas ketik mengetik di PDA ketimbang hanya untuk telepon dan bertukar teks serta multimedia. Karena itu selama komputer saat ini belum dapat dibuat dengan ukuran PDA, maka yang lebih mungkin terjadi adalah membuat PDA ber-keyboard untuk mengakomodasi tuntutan zaman.

Perkembangan 3G yang kian gencar akan menghadirkan internet pita lebar untuk ponsel sehingga aplikasi-aplikasi yang tadinya eksklusif hanya untuk komputer dan notebook dapat ditampilkan lewat ponsel. Salah satu aplikasi 3G misalnya, menghadirkan wajah si pembicara dalam layar ponsel penerima.

Masalahnya, saya tidak bisa membayangkan bahwa di masa depan, saya harus membiasakan diri menjawab ponsel saya tidak dengan meletakkan ponsel saya di telinga kemudian berhalo-halo ria, tetapi melihat ponsel saya dan menatap wajah si penelpon di layar ponsel, layaknya seperti berbicara dengan seseorang melalui teve. Saya pikir, setelah 130 tahun tradisi manusia menjawab telepon dengan cara “tradisional”, maka saya rasa diperlukan waktu yang lama untuk merubah pola menjawab ponsel yang demikian.

Does Power Matter?

Sementara pada komputer, yang terjadi saat ini adalah adu kecepatan dan kekuatan. Dua kubu yang bertarung sengit, Intel dan AMD berusaha untuk terus saling mengalahkan dengan menciptakan prosesor-prosesor baru yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Perangkat keras pendukung seperti harddisk, memory dan lain sebagainya pun tidak mau ketinggalan, masing-masing berlomba menciptakan perangkat keras dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada sebelumnya.

Tetapi, pada suatu saat teknologi komputer saat ini akan berada dalam batas tertentu sehingga batasan perangkat keras didobrak oleh penemuan-penemuan mutakhir yang membuat kita berpikir ulang bagaimana mendefinisi kecepatan. Komputer dengan kecepatan cahaya? Komputer bertenaga hidrogen atau mikro nuklir? Jangan anggap ini lelucon karena riset ke arah itu sudah ada.

Tetapi mungkin juga tidak. Karena masa depan tidaklah melulu soal adu kecepatan dan kekuatan. Suatu saat para pakat teknologi akan berpikir bagaimana menciptakan sebuah komputer yang mempunyai daya komputasi berdaya rendah namun amat memadai untuk melakukan komputasi. Bedanya, komputer ini akan sangat bergantung pada internet sehingga komputasi baik untuk melakukan aktivitas wordprocessing, misalnya akan dilakukan di server, bukan di client. Komputer masa depan mungkin tak ubahnya seperti teve masa kini, hanya menangkap signal dari gelombang yang dipancarkan. Bedanya, komputer masa depan akan menangkap gelombang internet dan interaksi dengan pengguna dilakukan dua arah (full duplex).

Komputer masa depan akan berfungsi layaknya pemutar lagu dan video. Bedanya, file lagu dan video tidak ada di dalam komputer, melainkan di server. Dengan begitu, tidak diperlukan harddisk yang besar untuk menyimpan file yang begitu banyak dan tidak pula diperlukan prosesor berdaya komputasi besar mengingat kebanyakan komputasi akan dilakukan di server. Hal ini juga akan membuat kita tak perlu belanja aplikasi word processor misalnya, karena sudah dilengkapi di server. Aplikasi semacam ini sudah ditawarkan di beberapa situs, namun dinilai belum terlalu mengemuka karena isu keamanan dan terbatasnya bandwidth.

Internet ada di mana-mana

Pernah dengar judul sinetron di salah satu teve swasta berjudul “Tuhan ada di mana-mana?” Jika pernah, itulah yang sedang dikembangkan oleh para pakar teknologi dewasa ini: Internet ada dimana-mana dan nirkabel tentunya.

Internet sudah mulai merambah dunia sejak tahun 1990an dan penggunaannya hanya terbatas pada imajinasi manusia. Dari hanya untuk bertukar informasi iptek, email, multimedia, kampanye, mobile banking, blogging, hingga mengawasi bayi dari kantorpun, semuanya dapat dilakukan lewat internet.

Beberapa kota di dunia seperti Taiwan, Philadelphia dan San Fransisco tengah mengadopsi sebuah sistem nirkabel raksasa. Sehingga kelak, seseorang bisa mengakses internet di taman kota secara nirkabel. Sistem ini lebih nyaman ketimbang bergonta-ganti hotspots dengan jaringan yang berbeda.

Siapa yang tahu? Saya melihat bahwa seperti halnya revolusi industri yang merubah dunia tahun 1760-1830 yang lalu, maka revolusi teknologi informasi dengan motto Internet Everywhere dapat merubah cara manusia melihat dunia, merubah cara bekerja dan menikmati hidup.

Saya membayangkan suatu saat saya duduk di taman kota, Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua Jakarta yang sudah asri dengan pepohonan rindang (tentunya kalau taman tersebut sudah direvitalisasi oleh Pemda DKI) bersama seorang nenek, istri saya kelak tentunya :-) dan membuka ponsel saya dan melihat tayangan televisi sekaligus melihat foto-foto cucu kami yang sekolah di Australia sambil menikmati secangkir kopi hangat, tape serta pisang goreng yang kesemuanya saya bayar dengan mobile banking.

Mungkin teknologi berubah, namun kebiasaan saya memakan tape dan pisang goreng, mungkin tidak. Beberapa kebiasaan susah dihilangkan.

--------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.