Bayangkan ini:
“Saya sedang menaiki busway jurusan Blok M - Kota ke arah kantor di bilangan Sudirman. Sembari duduk, saya asyik mendendangkan sebuah lagu yang baru saja didownload secara streaming dari internet lewat ponsel. Keasyikan saya tiba-tiba terganggu karena ponsel saya yang terkoneksi lewat VoIP berdering. Ketika dijawab, terlihat wajah Toni, teman kantor di layar ponsel saya yang kebingungan di kantor karena server mendadak rusak dan bisa-bisa menghambat pekerjaan dan merugikan kantor secara finansial. Saya tenangkan Toni dahulu. Sebagai seorang system analyst, tentu saja saya tahu apa yang dihadapi. Masih melalui ponsel saya yang dilengkapi internet dan VPN, server saya matikan dan saya perintahkan untuk menjalankan deteksi kerusakan. Dalam hitungan detik, server mengirimkan laporan kembali ke saya dan mendeteksi kegagalan harddisk. Kemudian saya mencari toko komputer terdekat masih dengan ponsel saya. Ketika busway berada di bilangan Senayan, ponsel mendeteksi toko komputer di kawasan Ratu Plaza. Bukan hanya itu saja, namun ponsel juga memperlihatkan daftar merek dan harga perangkat keras yang saya cari. Saya klik harddisk yang saya inginkan dengan satu sentuhan lembut di layar ponsel dan membelinya lewat mobile banking. Saya minta supaya barang diantar ke kantor dan bertemu dengan Toni. Tidak perlu saya menjelaskan dan mengeja alamat kantor susah payah karena nomor ponsel sudah teregistrasi secara nasional dan semua informasi mengenai profile saya sangat lengkap. Ketika sampai di kantor, masalah sudah teratasi dengan baik. Bahkan atasan saya tidak menyadari masalah teknis tersebut karena saat server saya matikan, backup server langsung menggantikan secara otomatis..”
Mungkin impian saya di atas sangat berlebihan. Tetapi mungkin juga tidak. Bahkan, beberapa elemen dari impian saya sudah terwujud serta bagian lain berada di ambang kenyataan. Impian saya tidak mustahil terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama berkat konvergensi teknologi informatika (TI).
Walaupun konvergensi TI impian saya sangat ekstrim, selama ini konvergensi dalam taraf tertentu, sudah dinikmati konsumen dengan munculnya produk-produk TI berkelas consumer goods. Walau trend ini bukan sama sekali baru, tahun 2006 tetap bertahan pada konvergensi yang menjadi prinsip mendasar dan fokus bisnis TI. Kelas ini juga paling banyak diminati, baik oleh konsumen maupun produsen elektronik. Konsumenpun sangat variatif dengan tren pasar yang selalu berubah-rubah. Jangan heran bahwa peluang bisnis di sektor ini sangat menggiurkan.
Konsumen dewasa ini dilazimkan dengan sebuah perangkat TI yang serba bisa. Fitur seperti kamera megapiksel, bluetooth, memori eksternal, layar ekstra lebar, USB port, speakerphone, Wi-Fi, MP3, Video Player, GPS, dan lain-lain sebagainya dipadatkan dalam satu produk. Konvergensi meningkatkan kompatibilas dan interoperabilitas sehingga satu produk dengan produk lainnya bisa “saling komunikasi”. Konvergensi juga merupakan syarat utama untuk menjaga eksistensi suatu produk di pasaran. Untuk si penjual, kovergensi TI menaikkan daya saing dengan produk sejenis yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual. Di pihak lain konsumen juga menuntut sebuah perangkat TI yang kaya fitur dan berani membayar lebih untuk hal itu.
Saya melihat bahwa konvergensi akan menjadi tren dalam waktu yang jauh lebih lama. Disaat satu teknologi sudah mencapai titik jenuh dan belum ada terobosan baru, maka teknologi tersebut akan dipadukan dengan teknologi lainnya. Saya tidak berbicara hanya untuk ponsel. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa di sektor ponsel inilah konvergensi nampak sangat jelas dan berjalan jauh lebih cepat. Butuh waktu lama sehingga komputer pribadi dan notebook untuk dilengkapi dengan internet. Sedangkan untuk ponsel dan komputer saku atau Palm Digital Assistant (PDA), jauh lebih cepat.
Saya memberanikan diri untuk memprediksi konvergensi TI sedikit ke depan. Saya lihat bahwa ada tiga ciri khas konvergensi yaitu faktor telepon, komputer dan internet. Karena itu, ketiga faktor ini merupakan hal yang mesti ada (a must have) dalam sebuah perangkat IT yang terkonvergensi. Walau terkesan saling tumpang tindih, namun masing-masing tidak dapat menghilangkan satu atau lainnya. Malahan ketiganya saling melengkapi.
Bukan hanya sekedar kata-kata
Sejak Alexander Graham Bell menciptakan telepon pada tahun 1876, teknologi ini tidak berubah drastis. Telepon sampai sekarang adalah alat untuk menelepon yang mentransmisikan suara manusia. Saat jaringan telepon digunakan untuk mengirim faksimil yang pertama kalinya pada tahun 1925, dan untuk internet pada awal 1980-an, teknologi telepon pada prinsipnya tidak berubah. Penggunaan mesin faksimil dan internet pada telepon hanya mengkonversi digital ke analog dan sebaliknya pada “si penelpon” dan “si penerima” telepon, namun tidak merubah jaringan telepon itu sendiri. Teknologi transistor pada tahun 1947 memang telah menggantikan bahan perangkat keras sirkuit telepon yang tadinya berat menjadi lebih ringan dan kompak. Namun, desain dasar dan cara kerja telepon pada esensinya tetap sama.
Pada sisi telepon, konvergensi pada telepon mulai nampak pada perpaduan antara telepon dengan PDA. Berkat penyatuan keduanya, maka teks dan multimedia dapat ditransmisikan melewati jaringan telepon. Hal ini sudah lama dapat dilakukan dengan komputer yang terkoneksi internet. Bedanya, PDA berponsel atau Ponsel ber-PDA lebih unggul karena sifatnya yang mobile. Karena itu, teknologi seperti ini lebih diminati. Untuk diketahui saja bahwa bisnis tukar menukar teks, foto dan video dengan SMS maupun MMS akan bernilai 50 milyar Euro dengan 2,3 trilyun pesan terkirim pada tahun 2010.
Telepon seperti internet, membuat manusia terhubung antara satu dengan lainnya. Namun ketimbang hanya saling nyerocos hanya dengan suara, maka internet membuat telepon lebih kaya fitur, dan mengirimkan bukan hanya sekedar kata-kata.
Namun demikian, telepon tidak akan tergantikan oleh internet. Walaupun teknologi seperti VoIP sudah banyak dan kian matang, VoIP tidak akan dominan. Semata-mata karena perusahaan telepon di banyak negara merupakan monopoli pemerintah dan diregulasi. Sementara perkembangan internet di Indonesia, layaknya di Amerika Serikat, lebih bersandar kepada permintaan pasar atau hukum ekonomi yaitu besar kecilnya permintaan dan penawaran.
Gaya hidup manusia yang lebih mobile di masa datang akan menuntut produsen teknologi informasi untuk membuat lebih banyak lagi PDA yang ber-keyboard. Karena notebook dewasa ini walaupun berdaya komputasi jauh lebih besar daripada PDA, dimensi fisik notebook masih terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam saku baju atau celana. Sementara, banyak orang sudah melakukan aktivitas ketik mengetik di PDA ketimbang hanya untuk telepon dan bertukar teks serta multimedia. Karena itu selama komputer saat ini belum dapat dibuat dengan ukuran PDA, maka yang lebih mungkin terjadi adalah membuat PDA ber-keyboard untuk mengakomodasi tuntutan zaman.
Perkembangan 3G yang kian gencar akan menghadirkan internet pita lebar untuk ponsel sehingga aplikasi-aplikasi yang tadinya eksklusif hanya untuk komputer dan notebook dapat ditampilkan lewat ponsel. Salah satu aplikasi 3G misalnya, menghadirkan wajah si pembicara dalam layar ponsel penerima.
Masalahnya, saya tidak bisa membayangkan bahwa di masa depan, saya harus membiasakan diri menjawab ponsel saya tidak dengan meletakkan ponsel saya di telinga kemudian berhalo-halo ria, tetapi melihat ponsel saya dan menatap wajah si penelpon di layar ponsel, layaknya seperti berbicara dengan seseorang melalui teve. Saya pikir, setelah 130 tahun tradisi manusia menjawab telepon dengan cara “tradisional”, maka saya rasa diperlukan waktu yang lama untuk merubah pola menjawab ponsel yang demikian.
Does Power Matter?
Sementara pada komputer, yang terjadi saat ini adalah adu kecepatan dan kekuatan. Dua kubu yang bertarung sengit, Intel dan AMD berusaha untuk terus saling mengalahkan dengan menciptakan prosesor-prosesor baru yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Perangkat keras pendukung seperti harddisk, memory dan lain sebagainya pun tidak mau ketinggalan, masing-masing berlomba menciptakan perangkat keras dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada sebelumnya.
Tetapi, pada suatu saat teknologi komputer saat ini akan berada dalam batas tertentu sehingga batasan perangkat keras didobrak oleh penemuan-penemuan mutakhir yang membuat kita berpikir ulang bagaimana mendefinisi kecepatan. Komputer dengan kecepatan cahaya? Komputer bertenaga hidrogen atau mikro nuklir? Jangan anggap ini lelucon karena riset ke arah itu sudah ada.
Tetapi mungkin juga tidak. Karena masa depan tidaklah melulu soal adu kecepatan dan kekuatan. Suatu saat para pakat teknologi akan berpikir bagaimana menciptakan sebuah komputer yang mempunyai daya komputasi berdaya rendah namun amat memadai untuk melakukan komputasi. Bedanya, komputer ini akan sangat bergantung pada internet sehingga komputasi baik untuk melakukan aktivitas wordprocessing, misalnya akan dilakukan di server, bukan di client. Komputer masa depan mungkin tak ubahnya seperti teve masa kini, hanya menangkap signal dari gelombang yang dipancarkan. Bedanya, komputer masa depan akan menangkap gelombang internet dan interaksi dengan pengguna dilakukan dua arah (full duplex).
Komputer masa depan akan berfungsi layaknya pemutar lagu dan video. Bedanya, file lagu dan video tidak ada di dalam komputer, melainkan di server. Dengan begitu, tidak diperlukan harddisk yang besar untuk menyimpan file yang begitu banyak dan tidak pula diperlukan prosesor berdaya komputasi besar mengingat kebanyakan komputasi akan dilakukan di server. Hal ini juga akan membuat kita tak perlu belanja aplikasi word processor misalnya, karena sudah dilengkapi di server. Aplikasi semacam ini sudah ditawarkan di beberapa situs, namun dinilai belum terlalu mengemuka karena isu keamanan dan terbatasnya bandwidth.
Internet ada di mana-mana
Pernah dengar judul sinetron di salah satu teve swasta berjudul “Tuhan ada di mana-mana?” Jika pernah, itulah yang sedang dikembangkan oleh para pakar teknologi dewasa ini: Internet ada dimana-mana dan nirkabel tentunya.
Internet sudah mulai merambah dunia sejak tahun 1990an dan penggunaannya hanya terbatas pada imajinasi manusia. Dari hanya untuk bertukar informasi iptek, email, multimedia, kampanye, mobile banking, blogging, hingga mengawasi bayi dari kantorpun, semuanya dapat dilakukan lewat internet.
Beberapa kota di dunia seperti Taiwan, Philadelphia dan San Fransisco tengah mengadopsi sebuah sistem nirkabel raksasa. Sehingga kelak, seseorang bisa mengakses internet di taman kota secara nirkabel. Sistem ini lebih nyaman ketimbang bergonta-ganti hotspots dengan jaringan yang berbeda.
Siapa yang tahu? Saya melihat bahwa seperti halnya revolusi industri yang merubah dunia tahun 1760-1830 yang lalu, maka revolusi teknologi informasi dengan motto Internet Everywhere dapat merubah cara manusia melihat dunia, merubah cara bekerja dan menikmati hidup.
Saya membayangkan suatu saat saya duduk di taman kota, Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua Jakarta yang sudah asri dengan pepohonan rindang (tentunya kalau taman tersebut sudah direvitalisasi oleh Pemda DKI) bersama seorang nenek, istri saya kelak tentunya :-) dan membuka ponsel saya dan melihat tayangan televisi sekaligus melihat foto-foto cucu kami yang sekolah di Australia sambil menikmati secangkir kopi hangat, tape serta pisang goreng yang kesemuanya saya bayar dengan mobile banking.
Mungkin teknologi berubah, namun kebiasaan saya memakan tape dan pisang goreng, mungkin tidak. Beberapa kebiasaan susah dihilangkan.
--------------------------------------------------------
© Herbhayu
Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.