Monday, April 10, 2006

Generasi Setengah Hati

Kegetolan kita kepada perangkat elektronik, entah itu laptop, PDA, ponsel, pemutar lagu/video digital, membuat kita merasa seakan tidak bisa hidup tanpa mereka. Bahkan di dunia yang serba terkoneksi ini, kita seakan khawatir kalau sebentar saja tak bisa terhubungi, baik lewat telepon, pesan singkat—SMS—maupun internet. Karena itu, kita tidak pernah melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Pada waktu kita bekerja di depan komputer, chat window tetap dibiarkan terbuka, saat rapat dengan kolega, kita sibuk menekan tombol ponsel untuk SMS, bahkan untuk sholat Jumatpun, ponsel dibiarkan tetap menyala.

Hal ini yang disadari oleh Linda Stone, mantan eksekutif perusahaan Microsoft dan Apple dimana secara implisit menyampaikan bahwa masyarakat masa kini tengah mengidap sebuah epidemi yang disebutnya sebagai continous partial attention. Epidemi ini membuat perhatian kita setengah-setengah pada satu pekerjaan yang sedang kita jalani, karena setengah perhatian kita yang lain, terfokus pada kegiatan lainnya.

Saat itu ia berceramah di sebuah konferensi teknologi di San Diego, Amerika Serikat, dengan para peserta konferensi yang terdiri dari para pakar komputer, pakar dan pengusaha. Saat sedang berceramah, setengah dari para peserta sibuk menekuri laptopnya. Sementara mereka yang tidak membawa komputer jinjing, sesekali melihat perangkat BlackBerry mereka untuk mengecek email, melakukan blogging, menjelajahi internet, membayar tagihan mereka secara on-line dan lain sebagainya. Sehingga perhatian mereka tidak pernah seratus persen kepada ceramah Stone.

Intinya itu. Perhatian yang setengah-setengah, dan ini tidak melulu terkait dengan teknologi karena sebenarnya isu ini lebih mengarah kepada sebuah gejala sosial. Sebenarnya, jika kita dapat mengontrol dan dapat membelah perhatian dengan baik, tentu tidak ada salahnya. Kita biasa membaca koran sambil minum kopi bukan? Atau makan malam sambil mengobrol dengan teman atau keluarga, berkendara sembari menelepon. Tapi kalau tidak bisa, bagaimana?

Contoh mudah saja, kemarin saya berjalan-jalan di sebuah mal dimana saya melihat dua pasang muda-mudi yang sedang menunggu makanan mereka yang tengah dipesan. Menariknya, para manusia muda ini tidak ada yang mengobrol, namun asyik dengan ponselnya masing-masing. Mungkin mereka tengah ber-sms, telepon, atau main game di ponsel. Kalau sudah begitu, buat apa janjian di mal?

Karena kita dalam keadaan terkoneksi, maka perhatian kita secara kontinyu selalu teralihkan dari dunia nyata karena kita selalu menjawab email, sms, mengecek pesan suara, atau chatting. Gangguan dari “dunia lain” ini, jika bertubi-tubi, membuat kita tidak accessible, lantaran sibuk menjawab pesan maya yang datang terus menerus dan tak kunjung henti. Dilihat dari hubungan sosial antar manusia, tentu saja jika terus berlanjut, akibatnya tidak baik.

Tetapi mungkin memang generasi sudah berubah. Anak-anak generasi sekarang dikenal dengan nama generasi M. M singkatan dari Multitasking (mengerjakan banyak hal sekaligus). Dalam konteks TI, seorang anak dapat melakukan berbagai hal berbeda dalam satu waktu. Seorang anak dapat bermain game, chatting dengan temannya lewat instant messanger, menonton teve, menelpon sembari mengerjakan tugas dari sekolah. Ini merupakan kejadian yang sudah mewabah di AS.

Para orang tua khawatir apakah multitasking akan mengurangi kinerja anak-anak mereka di sekolah. Logikanya, kalau mengerjakan banyak hal sekaligus, tentu saja pekerjaan tersebut menjadi kurang bagus, karena perhatian dan daya konsentrasi tentu terpecah dan fokus mereka menjadi setengah-setengah. Namun, sejauh ini belum ada riset yang membuktikan bahwa multitasking membuat anak kehilangan fokus dalam belajar. Penelitian tentang hal ini tengah berlangsung. Mungkin juga riset akan membuktikan bahwa multitasking tidak membuat anak-anak sekarang kehilangan konsentrasinya. Siapa tahu. Kita tunggu saja.

Mungkin multitasking sudah saatnya. Pernah lihat film komedi romantik Holywood (1997) yang dibintangi Robin Williams berjudul Flubber? Ia berperan sebagai seorang profesor sains yang sangat pelupa (Prof. Philip Brainard), sehingga saat pernikahannya dengan Marcia Gay Harden (Dr. Sara Jean Reynolds), ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Sehingga kata Yes, I do terpaksa dilontarkan lewat mesin buatannya, Weebo. Mungkin suatu saat, multitasking se-ektrem ini akan menjadi kenyataan? Ataukah memang multitasking menjadi gaya hidup yang sudah menjadi keharusan. Anda yang menentukannya.


© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

Monday, April 03, 2006

Globalisasi Negatif

Saya terinspirasi artikel Christian Caryl dalam majalah mingguan Newsweek edisi 13 Februari berjudul: Turning Un-Japanese, dimana Caryl menggambarkan bahwa orang Jepang sudah kehilangan budayanya, adat-istiadat dan kebiasaan tradisionalnya karena tergerus globalisasi. Masyarakat Jepang, terutama kaum mudanya menganut gaya hidup pro-Barat yang menjadikan westernisasi sebagai sebuah tren, sebuah kiblat budaya yang menjadi idola.

Mereka bahkan tidak mengenal lagi acara minum teh, sedikit yang tertarik dengan olahraga sumo—olahraga tradisional Jepang, industri sake—minuman khas Jepang—tergantikan dengan bir dan anggur, meningkatnya jumlah muda-mudi Jepang pembangkang (rebels), dan lain-lain.

Tentu saja apa yang terjadi di Jepang tidak tertutup terjadi di Indonesia. Oh, maaf, apakah saya bicara terlambat?

Manusia Indonesia suka hal-hal yang berbau modern. Mungkin sudah bawaan dari lahir. Memakai kemeja Pierre Cardin, bersepatu Bally, menenteng tas Mont Blanc di tangan kanan sambil mengempit komputer genggam Toshiba, berjam tangan Rolex dan mengemudikan Nissan Terrano. Kesan mewah dan metroseksual pasti terpancar. Siapa yang tidak akan tergila-gila dibuatnya.

Namun tidak satupun dari benda-benda tersebut dapat kita buat sendiri di tanah air. Kita bangsa pengimpor. Semua benda tersebut adalah hasil dari globalisasi dimana kita, manusia Indonesia menjadi konsumen yang konsumtif. Globalisasi itu ngeri, kalau kita tidak cerdas menanggapinya. Namun apa hendak dikata, globalisasi dan westernisasi sering dimenangkan dengan alasan modernitas.

Celakanya, globalisasi tidak menyerang dari sisi konsumtifnya saja. Lupakan hegemoni Barat dan kapitalisme. Ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yang lebih kasat mata, yaitu erosi budaya. Apa yang terjadi di Jepang, terjadi pula di Indonesia, berapa orang yang ikut pencak silat daripada yang ingin pintar dansa Tango atau tari Balet. Berapa orang yang ikut kursus gamelan dibandingkan les bahasa inggris. Budaya Indonesia meluntur, nilai-nilai keluarga dan kekeluargaan hilang, semangat gotong royong sirna. Nasionalisme tumpul.

Semua serba materialistis, individualistis dan impersonal.

Tidak ada lagi yang membuat kita merasa Indonesia.

Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini bak formula matematika yang selalu berbanding terbalik. Tidak akan berlaku lagi ada istilah Jawa, mangan ora mangan ngumpul (makan tidak makan kumpul). Saya khawatir bahwa rasa keindonesiaan akan hilang sirna, cepat atau perlahan. Kita melihat bahwa suka atau tidak suka, bahwasanya globalisasi, jika tidak ditanggapi dengan cerdik, lebih banyak merugikan kita.

Kita tahu bahwa globalisasi tidak dapat dihindari. Menurut Ali H Al-Hakim, salah seorang intelektual muslim, menyatakan bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang berurat-akar, yang bahkan para penentangnya telah menerima bahwa “proses tersebut tidak bisa dihindari” karena globalisasi meliputi sebuah proses yang sangat panjang, membentang selama berabad-abad, meliputi dimensi-dimensi budaya, politik, sosial-komunikatif, dan ekonomi”.

Kita harus diingatkan kembali bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Karena kalau tidak, kita lupa. Kita pernah jaya, sebuah kejayaan masa lalu yang mungkin tidak dapat kita raih kembali karena bangsa ini minder dengan gaya hidup barat. Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini adalah formula matematika yang senantiasa berbanding terbalik.

Jepang masih beruntung. Walaupun akulturasi dengan Barat membuat budaya Jepang meluntur, budaya Jepang juga mencuat ke luar. Restoran Sushi (Sushibar) dapat kita temukan di mana saja, Japanese Pop (J-Pop) merambah ke Cina, Korea, Asia Tenggara bahkan Amerika. Komik dan film kartun Jepang (manga dan animé) memiliki penggemar di seluruh dunia.

Lantas kita punya apa?

Bangsa ini mengekspor penduduknya untuk dipekerjakan di luar negeri. Walau dianggap sebagai pahlawan devisa, kenyataan berbicara bahwa mereka masih dipicingkan sebelah mata baik oleh negara penerima maupun bangsa sendiri. Di Belanda, banyak berdiri restoran Indonesia, namun peminatnya hanya kaum sepuh yang dulunya lama di negara ini sebagai salah satu eks koloni. Sekalinya generasi tua ini habis dimakan zaman, maka hubungan budaya dengan Belanda akan putus.

Sepertinya saya harus bertanya lagi, apa yang membuat kita merasa Indonesia?

Sayangnya kita berada dalam posisi yang tidak diuntungkan oleh globalisasi. Bukan karena salah globalisasinya, melainkan karena kita lalai. Globalisasinya semestinya bisa menjadi batu loncatan. Kita tidak perlu mengalami perang saudara di Amerika, perang dunia di Eropa, karena sejarah terlalu mahal untuk diulang. Indonesia memiliki banyak potensi yang seandainya digunakan dengan baik, akan menjadi negara besar di kawasan. Indonesia harus belajar dari sejarah, karena kalau tidak, Indonesia berdiri di atas landasan yang goyah, yang dapat tiba-tiba jatuh. Atau, Indonesia yang kita kenal saat ini akan berbeda dengan Indonesia 10 atau 20 tahun mendatang.

---------------------------------------------------------------

© Herbhayu

Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.