Generasi Setengah Hati
Kegetolan kita kepada perangkat elektronik, entah itu laptop, PDA, ponsel, pemutar lagu/video digital, membuat kita merasa seakan tidak bisa hidup tanpa mereka. Bahkan di dunia yang serba terkoneksi ini, kita seakan khawatir kalau sebentar saja tak bisa terhubungi, baik lewat telepon, pesan singkat—SMS—maupun internet. Karena itu, kita tidak pernah melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Pada waktu kita bekerja di depan komputer, chat window tetap dibiarkan terbuka, saat rapat dengan kolega, kita sibuk menekan tombol ponsel untuk SMS, bahkan untuk sholat Jumatpun, ponsel dibiarkan tetap menyala.
Hal ini yang disadari oleh Linda Stone, mantan eksekutif perusahaan Microsoft dan Apple dimana secara implisit menyampaikan bahwa masyarakat masa kini tengah mengidap sebuah epidemi yang disebutnya sebagai continous partial attention. Epidemi ini membuat perhatian kita setengah-setengah pada satu pekerjaan yang sedang kita jalani, karena setengah perhatian kita yang lain, terfokus pada kegiatan lainnya.
Saat itu ia berceramah di sebuah konferensi teknologi di San Diego, Amerika Serikat, dengan para peserta konferensi yang terdiri dari para pakar komputer, pakar dan pengusaha. Saat sedang berceramah, setengah dari para peserta sibuk menekuri laptopnya. Sementara mereka yang tidak membawa komputer jinjing, sesekali melihat perangkat BlackBerry mereka untuk mengecek email, melakukan blogging, menjelajahi internet, membayar tagihan mereka secara on-line dan lain sebagainya. Sehingga perhatian mereka tidak pernah seratus persen kepada ceramah Stone.
Intinya itu. Perhatian yang setengah-setengah, dan ini tidak melulu terkait dengan teknologi karena sebenarnya isu ini lebih mengarah kepada sebuah gejala sosial. Sebenarnya, jika kita dapat mengontrol dan dapat membelah perhatian dengan baik, tentu tidak ada salahnya. Kita biasa membaca koran sambil minum kopi bukan? Atau makan malam sambil mengobrol dengan teman atau keluarga, berkendara sembari menelepon. Tapi kalau tidak bisa, bagaimana?
Contoh mudah saja, kemarin saya berjalan-jalan di sebuah mal dimana saya melihat dua pasang muda-mudi yang sedang menunggu makanan mereka yang tengah dipesan. Menariknya, para manusia muda ini tidak ada yang mengobrol, namun asyik dengan ponselnya masing-masing. Mungkin mereka tengah ber-sms, telepon, atau main game di ponsel. Kalau sudah begitu, buat apa janjian di mal?
Karena kita dalam keadaan terkoneksi, maka perhatian kita secara kontinyu selalu teralihkan dari dunia nyata karena kita selalu menjawab email, sms, mengecek pesan suara, atau chatting. Gangguan dari “dunia lain” ini, jika bertubi-tubi, membuat kita tidak accessible, lantaran sibuk menjawab pesan maya yang datang terus menerus dan tak kunjung henti. Dilihat dari hubungan sosial antar manusia, tentu saja jika terus berlanjut, akibatnya tidak baik.
Tetapi mungkin memang generasi sudah berubah. Anak-anak generasi sekarang dikenal dengan nama generasi M. M singkatan dari Multitasking (mengerjakan banyak hal sekaligus). Dalam konteks TI, seorang anak dapat melakukan berbagai hal berbeda dalam satu waktu. Seorang anak dapat bermain game, chatting dengan temannya lewat instant messanger, menonton teve, menelpon sembari mengerjakan tugas dari sekolah. Ini merupakan kejadian yang sudah mewabah di AS.
Para orang tua khawatir apakah multitasking akan mengurangi kinerja anak-anak mereka di sekolah. Logikanya, kalau mengerjakan banyak hal sekaligus, tentu saja pekerjaan tersebut menjadi kurang bagus, karena perhatian dan daya konsentrasi tentu terpecah dan fokus mereka menjadi setengah-setengah. Namun, sejauh ini belum ada riset yang membuktikan bahwa multitasking membuat anak kehilangan fokus dalam belajar. Penelitian tentang hal ini tengah berlangsung. Mungkin juga riset akan membuktikan bahwa multitasking tidak membuat anak-anak sekarang kehilangan konsentrasinya. Siapa tahu. Kita tunggu saja.
Mungkin multitasking sudah saatnya. Pernah lihat film komedi romantik Holywood (1997) yang dibintangi Robin Williams berjudul Flubber? Ia berperan sebagai seorang profesor sains yang sangat pelupa (Prof. Philip Brainard), sehingga saat pernikahannya dengan Marcia Gay Harden (Dr. Sara Jean Reynolds), ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Sehingga kata Yes, I do terpaksa dilontarkan lewat mesin buatannya, Weebo. Mungkin suatu saat, multitasking se-ektrem ini akan menjadi kenyataan? Ataukah memang multitasking menjadi gaya hidup yang sudah menjadi keharusan. Anda yang menentukannya.
© Herbhayu
Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.
