Globalisasi Negatif
Saya terinspirasi artikel Christian Caryl dalam majalah mingguan Newsweek edisi 13 Februari berjudul: Turning Un-Japanese, dimana Caryl menggambarkan bahwa orang Jepang sudah kehilangan budayanya, adat-istiadat dan kebiasaan tradisionalnya karena tergerus globalisasi. Masyarakat Jepang, terutama kaum mudanya menganut gaya hidup pro-Barat yang menjadikan westernisasi sebagai sebuah tren, sebuah kiblat budaya yang menjadi idola.
Mereka bahkan tidak mengenal lagi acara minum teh, sedikit yang tertarik dengan olahraga sumo—olahraga tradisional Jepang, industri sake—minuman khas Jepang—tergantikan dengan bir dan anggur, meningkatnya jumlah muda-mudi Jepang pembangkang (rebels), dan lain-lain.
Tentu saja apa yang terjadi di Jepang tidak tertutup terjadi di Indonesia. Oh, maaf, apakah saya bicara terlambat?
Manusia Indonesia suka hal-hal yang berbau modern. Mungkin sudah bawaan dari lahir. Memakai kemeja Pierre Cardin, bersepatu Bally, menenteng tas Mont Blanc di tangan kanan sambil mengempit komputer genggam Toshiba, berjam tangan Rolex dan mengemudikan Nissan Terrano. Kesan mewah dan metroseksual pasti terpancar. Siapa yang tidak akan tergila-gila dibuatnya.
Namun tidak satupun dari benda-benda tersebut dapat kita buat sendiri di tanah air. Kita bangsa pengimpor. Semua benda tersebut adalah hasil dari globalisasi dimana kita, manusia Indonesia menjadi konsumen yang konsumtif. Globalisasi itu ngeri, kalau kita tidak cerdas menanggapinya. Namun apa hendak dikata, globalisasi dan westernisasi sering dimenangkan dengan alasan modernitas.
Celakanya, globalisasi tidak menyerang dari sisi konsumtifnya saja. Lupakan hegemoni Barat dan kapitalisme. Ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yang lebih kasat mata, yaitu erosi budaya. Apa yang terjadi di Jepang, terjadi pula di Indonesia, berapa orang yang ikut pencak silat daripada yang ingin pintar dansa Tango atau tari Balet. Berapa orang yang ikut kursus gamelan dibandingkan les bahasa inggris. Budaya Indonesia meluntur, nilai-nilai keluarga dan kekeluargaan hilang, semangat gotong royong sirna. Nasionalisme tumpul.
Semua serba materialistis, individualistis dan impersonal.
Tidak ada lagi yang membuat kita merasa Indonesia.
Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini bak formula matematika yang selalu berbanding terbalik. Tidak akan berlaku lagi ada istilah Jawa, mangan ora mangan ngumpul (makan tidak makan kumpul). Saya khawatir bahwa rasa keindonesiaan akan hilang sirna, cepat atau perlahan. Kita melihat bahwa suka atau tidak suka, bahwasanya globalisasi, jika tidak ditanggapi dengan cerdik, lebih banyak merugikan kita.
Kita tahu bahwa globalisasi tidak dapat dihindari. Menurut Ali H Al-Hakim, salah seorang intelektual muslim, menyatakan bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang berurat-akar, yang bahkan para penentangnya telah menerima bahwa “proses tersebut tidak bisa dihindari” karena globalisasi meliputi sebuah proses yang sangat panjang, membentang selama berabad-abad, meliputi dimensi-dimensi budaya, politik, sosial-komunikatif, dan ekonomi”.
Kita harus diingatkan kembali bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Karena kalau tidak, kita lupa. Kita pernah jaya, sebuah kejayaan masa lalu yang mungkin tidak dapat kita raih kembali karena bangsa ini minder dengan gaya hidup barat. Semakin kita bergaya barat, semakin hilang rasa keindonesiaan kita. Ini adalah formula matematika yang senantiasa berbanding terbalik.
Jepang masih beruntung. Walaupun akulturasi dengan Barat membuat budaya Jepang meluntur, budaya Jepang juga mencuat ke luar. Restoran Sushi (Sushibar) dapat kita temukan di mana saja, Japanese Pop (J-Pop) merambah ke Cina, Korea, Asia Tenggara bahkan Amerika. Komik dan film kartun Jepang (manga dan animé) memiliki penggemar di seluruh dunia.
Lantas kita punya apa?
Bangsa ini mengekspor penduduknya untuk dipekerjakan di luar negeri. Walau dianggap sebagai pahlawan devisa, kenyataan berbicara bahwa mereka masih dipicingkan sebelah mata baik oleh negara penerima maupun bangsa sendiri. Di Belanda, banyak berdiri restoran Indonesia, namun peminatnya hanya kaum sepuh yang dulunya lama di negara ini sebagai salah satu eks koloni. Sekalinya generasi tua ini habis dimakan zaman, maka hubungan budaya dengan Belanda akan putus.
Sepertinya saya harus bertanya lagi, apa yang membuat kita merasa Indonesia?
Sayangnya kita berada dalam posisi yang tidak diuntungkan oleh globalisasi. Bukan karena salah globalisasinya, melainkan karena kita lalai. Globalisasinya semestinya bisa menjadi batu loncatan. Kita tidak perlu mengalami perang saudara di Amerika, perang dunia di Eropa, karena sejarah terlalu mahal untuk diulang. Indonesia memiliki banyak potensi yang seandainya digunakan dengan baik, akan menjadi negara besar di kawasan. Indonesia harus belajar dari sejarah, karena kalau tidak, Indonesia berdiri di atas landasan yang goyah, yang dapat tiba-tiba jatuh. Atau, Indonesia yang kita kenal saat ini akan berbeda dengan Indonesia 10 atau 20 tahun mendatang.
---------------------------------------------------------------
© Herbhayu
Tulisannya di dalam blog ini adalah opininya sendiri dan tidak mewakili opini pihak manapun. Tulisan dapat direpublikasi hanya dengan izin penulis.

2 Comments:
Excellent work. Globalisasi menjadikan kita bangsa pengimpor. Penggandrung globlisasi habis tidak lebih menjadi sekedar etalase pemajangan produk asing. Secara ekstrim, banyak yang bahkan sudah mengimpor jatidiri. Salam.
Globalisasi sesungguhnya bukan hal yang baru terjadi. Dia sudah berlangsung ketika adanya hubungan antar bangsa di muka bumi ini. Dan dia selalu menghasilkan adanya bangsa yang berpengaruh dan bangsa yang terpengaruh. Dalam kasus Jepang, mungkin pengalaman "terpengaruh" tsblah yang dianggap sbg jalan mencapai kemajuan bangsanya. Bedanya dengan Indonesia, kita begitu terpengaruh pada hal-hal yang bersifat konsumtif (membeli) dan pada cabang ilmu pengetahuan sosial, sedangkan Jepang pada hal-hal yang bersifat produktif (membuat) dan pada cabang ilmu teknik/teknologi.
Post a Comment
<< Home